Tuesday, October 26, 2010

TRADITIONAL WEDDING IN INDONESIA "EXPLORE THE BEAUTY OF MANADO" (PART 2)

 
There is still much beauty from "Manado" that we will discuss in part 2 of this. Talking about my hometown makes me more proud of my birthplace town as part of the cultural wealth in the homeland Indonesia, because my ancestors came from tribes bantik as one sub-ethnic group of Minahasa

Masih banyak keindahan dari "Manado" yang akan kita bicarakan pada part 2 ini. Membicarakan kota kelahiran saya membuat saya semakin bangga akan kota tempat kelahiran saya sebagai bagian dari kekayaaan budaya di tanah air indonesia, karena nenek moyang saya berasal dari suku bangsa bantik sebagai salah satu sub suku bangsa dari minahasa.

Ethnic group Minahasa is the majority tribe who inhabited the city of Manado, the customary law is an area of Minahasa tribe or also known as "Malesung". Own origins from the opinion of a linguist and the Ancient Chinese characters, called Tandean in 1997 came to examine the "Watu Pinawetengan" through the words "Min Nan Tou" contained in the rock, he reveals, tou Minahasa is derived from the land of Mongolia's King Ming King who came to immigrate to Minahasa. Meaning of Min Nan Tou are "derived from the island's  King Ming."

Suku bangsa minahasa adalah suku mayoritas yang mendiami kota manado, secara hukum adat merupakan wilayah dari Suku Minahasa atau disebut juga "Malesung". Asal usulnya sendiri dari pendapat seorang ahli bahasa dan huruf Tionghoa Kuno, bernama Tandean pada 1997 datang meneliti di "Watu Pinawetengan" melalui tulisan “Min Nan Tou” yang terdapat di batu itu, ia mengungkapkan, tou Minahasa merupakan turunan Raja Ming dari tanah Mongolia yang datang berimigrasi ke Minahasa. Arti dari Min Nan Tou adalah “orang turunan Raja Ming dari pulau itu".

Watu Pinawetengan is an unique interesting megalithic stone, through Minahasa history and archaeological research this stone is the place where the ancestors first divided up the land among sub-ethnics in Minahasa divided into several sub-ethnics:Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour (Tondano), Tonsawang (Tombatu), Ponosakan, Pasan (Ratahan), and Bantik.
This natural stone has hand-made scripts. These scripts show human, human genitals, and lines without any clear meaning. It looks like a bending person but some said it looks like Minahasa island. It is located in Tompaso sub-district, at the foot of Mount Soputan, Minahasa, or some 60 kilometers from Manado.




Watu Pinawetengan adalah sebuah batu megalitik unik yang menarik, melalui sejarah Minahasa dan penelitian arkeologi batu ini adalah tempat di mana nenek moyang pertama dibagi atas tanah itu di antara sub-etnis di Minahasa dibagi menjadi beberapa sub-etnis: Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour (Tondano ), Tonsawang (Tombatu), Ponosakan, pasan (Ratahan), dan Bantik . Batu alam ini memiliki skrip buatan tangan. Script ini menunjukkan manusia, alat kelamin manusia, dan garis-garis tanpa makna yang jelas. Ini terlihat seperti orang membungkuk tetapi beberapa mengatakan itu terlihat seperti pulau Minahasa. Hal ini terletak di Kecamatan Tompaso, di kaki Gunung Soputan, Minahasa, atau sekitar 60 kilometer dari Manado.


Likewise Baekman ALC expert opinions and MB Van Der Jack that Minahasa tribe came from the ties of race Mongolscheplooi Japanese and Mongols in the plains near china. Visible physical characteristics are thinking about the form of pleated Mongolia eye and skin color similarity, namely the Yellow Langsat. In the belief system is also seen in the original religion of Shamanism Minahasa like Mongols. Traditional governance systems also led by Walian which directly entered by the OPO or the God creator of heaven and earth. Religion Shamanism is indeed hereditary firmly held by the Mongol tribes. This equation can also be seen in Borneo Dayak, and Korea.

Demikian juga pendapat para ahli A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack bahwa suku minahasa berasal dari ras Mongolscheplooi yaitu pertalian Jepang dan Mongol di dataran dekat cina. Ciri ciri fisik nampak ialah memiki bentuk mata lipit Mongolia dan kesamaan Warna Kulit, yaitu Kuning Langsat. Dalam sistem kepercayaan juga terlihat  pada agama asli Minahasa yaitu Shamanisme sama seperti Mongol. Sistem pemerintahan adat juga dipimpin oleh Walian yang langsung dimasuki oleh Opo atau Tuhan pencipta langit dan bumi. Agama Shamanisme ini memang dipegang teguh secara turun temurun oleh suku Mongol. Persamaan ini juga dapat dilihat di Kalimantan Dayak, dan Korea.

to be continued...

www.evehandycraft.com | ivone punuh

No comments:

Post a Comment

Popular Posts